Bahasa IndonesiaEnglish
Bahasa IndonesiaEnglish

Ekonomi Sirkular

Ekonomi Sirkular merupakan model ekonomi yang menerapkan pendekatan sistemik untuk meminimalkan penggunaan sumber daya, mendesain suatu produk agar memiliki daya guna selama mungkin, dan mengembalikan sisa proses produksi dan konsumsi ke dalam rantai nilai. 

Informasi Umum

Ekonomi Sirkular di Indonesia telah diintegrasikan dalam dokumen perencanaan  pembangunan nasional, dimana pada rancangan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045, ekonomi sirkular akan menjadi salah satu strategi dalam mencapai Ekonomi Hijau. Ekonomi sirkular lebih luas dari sekedar pengelolaan sampah dan daur ulang. Prinsip utama ekonomi sirkular mencakup: (1) Eliminasi limbah/sampah dan pencemaran, (2) Menjaga sumber daya/produk di dalam siklus ekonomi dalam jangka waktu yang selama mungkin, dan (3) Membangun ekosistem yang regeneratif.

Peta Jalan dan Rencana Aksi Nasional Ekonomi Sirkular

Peta Jalan dan Rencana Aksi Nasional Ekonomi Sirkular (RAN-ES) Indonesia berfokus pada 5 sektor prioritas dan aspek pendukung ekosistem (kelembagaan dan regulasi, manajemen data, pendanaan, komunikasi, insentif, implementasi tingkat daerah). Dokumen ini merupakan acuan bagi para pemangku kepentingan dalam mendorong transisi dari ekonomi linear menjadi sirkular di Indonesia. Jangka waktu pelaksanaan rencana aksi adalah 20 tahun (2025–2045), dengan evaluasi berkala 5 tahunan.

Ekonomi Sirkular

Sektor Prioritas Penerapan

Pemilihan sektor utama didasari oleh analisis potensi implementasi ekonomi sirkular di indonesia yang didorong oleh potensi ekonomi, potensi sirkularitas, dan tingkat dukungan pemangku kepentingan

Pangan

Pendekatan sirkular mencakup prinsip-prinsip seperti pertanian berkualitas, organik, dan minim limbah, pakan ternak dari material alternatif, pemanfaatan sisa pangan dan bahan pangan offgrade, serta pengurangan dan pengelolaan sampah pangan.

Tekstil

Strategi sirkular dengan pengembangan kebijakan EPR dan infrastruktur daur ulang, pengurangan limbah tekstil, dan peningkatan efisiensi produksi dan penggunaan sumber daya.

Konstruksi

Pendekatan pada hulu dan hilir melalui desain dan metode kerja berkelanjutan, pemanfaatan sampah dan/limbah sisa konstruksi dan pembongkaran, penggunaan produk dan material ramah lingkungan, serta penerapan bangunan hijau.

Retail (fokus pada Kemasan Plastik)

Strategi yang mendorong redesain dan peningkatan kandungan daur ulang, pengelolaan kemasan bioplastik, pengembangan ekosistem kemasan guna ulang, serta peningkatan pengumpulan, daur ulang, dan pemulihan kemasan plastik.

Elektronik

Pengembangan ekosistem dengan penyusunan dan penerapan kebijakan Extended Producer Responsibility (EPR), pembangunan infrastruktur, ekodesain dan inovasi produk, serta perluasan untuk teknologi baru dan baterai kendaraan listrik.

Target Kebijakan

Pada RAN-ES, telah disusun indikator utama ekonomi sirkular yang diadopsi dari ISO 59020: Measuring and assessing circularity sebagai acuan penentuan indikator Nasional dengan penyesuaian konteks Indonesia.

 

Target Kebijakan dan RPJMN Ekonomi Sirkular

Kerangka 9R Arah Kebijakan Indikator Utama Capaian (2023)
R0 Refuse Pengurangan penggunaan sumber daya Tingkat input material sirkular 9%
R1 Rethink
R2 Reduce
R3 Reuse Perpanjangan daya guna produk dan material Tingkat Daya Guna 4%
R4 Repair
R5 Refurbish
R6 Remanufacture
R7 Repurpose
R8 Recycle Peningkatan Daur Ulang dan Pemanfaatan Sisa Produksi dan Konsumsi Tingkat daur ulang 5%
R9 Recover

Ketiga indikator utama kerangka 9R di atas terintegrasi menjadi indikator dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) guna mengukur dan mengevaluasi capaian transisi Ekonomi Sirkular di tingkat nasional secara berkala.

Target RPJMN (2025 - 2029)

Indikator: Tingkat Input Material Sirkular

2025 9,2%
2026 9,4%
2027 9,6%
2028 9,8%
2029 10%

Capaian Terkini

Capaian Terkini Ekonomi Sirkular

9,2%*

Tingkat Input Material Sirkular

153 perusahaan

Perusahaan industri (berdasarkan lokasi) tersertifikasi industri hijau

10%*

Rasio penggunaan material sirkular di sektor industri

3-5%*

Persentase Penurunan Susut Pangan

3-5%*

Persentase pangan yang terselamatkan

93 produk

Jumlah produk yang bersertifikasi ramah lingkungan

17%

Persentase sampah yang didaur ulang

*Tanda bintang menunjukkan angka target/estimasi sementara.

Rencana Ke Depan

Kajian Loss and Damage

Pelaksanaan kajian mendalam terkait potensi kerugian dan kerusakan (Loss and Damage) secara spesifik pada empat sektor prioritas PBI.

Piloting PBI Lab

Pengembangan dan penerapan uji coba (piloting) PBI Lab sebagai wadah inkubasi inovasi dan solusi ketahanan iklim berbasis wilayah.

Sistem AKSARA PBI

Pengembangan dan penyempurnaan sistem digital AKSARA PBI guna mendukung pemantauan, pelaporan, dan evaluasi aksi iklim yang terintegrasi.

Monitoring Lanjutan

Evaluasi berkelanjutan (Monev) untuk memastikan setiap intervensi program berjalan sesuai target dan memberikan dampak penurunan risiko kerugian.

Mitra Pembangunan

GIZ
Climate and Biodiversity Hub Indonesia (ClimB)

Climb bertujuan untuk memperkuat kerangka kebijakan untuk menciptakan kondisi pendukung untuk pelaksanaan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dan tindakan keanekaragaman hayati yang lebih efektif dan kohesif di Indonesia. 

UK FDCO
Low Carbon Development Development (LCDI) Programme
Program LCDI Phase 2 merupakan kelanjutan dukungan Pemerintah Inggris melalui FCDO kepada Pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian PPN/Bappenas, untuk memperkuat implementasi pembangunan rendah karbon.
WRI Indonesia
LTS 2050 is now…

bertujuan untuk memperkuat model makro LCDI secara nasional dan memperkuat implementasi PRK di empat provinsi prioritas (Sumatera Selatan, Sulawesi Tengah, Bali, Sumatera Barat)

Studi Kasus - Food Loss and Waste di Indonesia

Kajian Food Loss and Waste (FLW) di Indonesia dilakukan oleh Kementerian PPN/Bappenas bersama dengan UK-FCDO, World Resources Institute (WRI) dan Waste4Change

Studi ini menemukan bahwa timbulan FLW Indonesia pada 2000 – 2019 adalah 23-48 juta ton/tahun atau setara dengan 115-184 kg/kapita/tahun. Dari sisi tahap rantai pasok, timbulan terbesar terjadi pada tahap konsumsi. Dari sisi sektor dan jenis pangan, timbulan terbesar terjadi pada subsektor tanaman pangan, yakni kategori padi-padian. Sementara itu, sektor pangan yang paling tidak efisien adalah tanaman hortikultura, tepatnya di kategori sayur-sayuran.

Dampak Timbulan FLW

213 - 0 Triliun

Kerugian ekonomi akibat FLW

*setara dengan 4-5% PDB Indonesia

0 Mega Ton

Total emisi GRK akibat FLW selama periode 2000-2020 (CO2-e)

Arah Kebijakan Pengelolaan FLW

Perubahan Perilaku dengan fokus pada pengembangan Lembaga Penyuluhan di daerah, peningkatan kapasitas pekerja pangan, serta edukasi kepada konsumen untuk meningkatkan perubahan perilaku.

Pembenahan Penunjang Sistem Pangan dengan mengembangkan korporasi petani dan nelayan serta menyediakan infrastruktur dan sarana prasarana yang mendukung efisiensi proses pangan.

Penguatan regulasi dan optimalisasi pendanaan dengan mengoptimalkan pendanaan tepat guna untuk perbaikan infrastruktur pangan, mengembangkan regulasi FLW di tingkat nasional dan regional, serta menguatkan koordinasi antar lembaga.

Pemanfaatan FLW dengan mendorong pengembangan platform penyaluran makanan, penanganan FLW yang mendukung ekonomi sirkular, dan pengembangan percontohan pemanfaatan FLW skala kota/kabupaten.

Pengembangan Kajian dan Pendataan FLW yang terintegrasi, baik pada level nasional maupun daerah.

Mitra Pembangunan

to top